Pengumuman Lomba Gelar Gagasan Matematika 2019

IKAHIMATIKA Indonesia Wilayah IV (Jateng – DIY)

 

Kami dari panitia Lomba Gelar Gagasan Matematika 2019 memohon maaf yang setulus-tulusnya dikarenakan ada beberapa hal yang tidak sesuai rencana. Di karenakan peserta tidak sesuai dengan kuota maka dari itu kami selaku panitia tidak dapat mengumumkan pemenang lomba Gelar Gagasan Matematika. Sebagai bentuk penghargaan, akan kami publikasi karya-karya yang sudah dikirimkan para peserta pada Website dan Instagram IKAHIMATIKA.

 

Berikut adalah daftar karya beserta penulis.

 

  1. Etnomatematics Learning – Siti Ghoyatul Muna, Himatika Iain Kudus
  2. Faiqotul Munawwaroh_Pengembangan Literasi Matematika dalam Pembelajaran di Kelas di Era Industri 4.0_HIMAPMA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
  3. Kawan Bukan Lawan -Novelita Petronelia Mekiuw, HMPS PMAT USD, Sanata Dharma
  4. Matematika di Era Big Data – Yasinta Oktavia Putri, HMM Sanata Dharma
  5. Penerapan Matematika Yang Semakin Dibutuhkan Vs Kurangnya Peminat Bidang Matematika – Corazon Olivia Sianturi, HMM Sanata Dharma
  6. Untuk Dibayangkan- Paulinus Patigor Gulo, HMPS PMAT USD, Sanata Dharma

 

 

 

Etnomathematics Learning Berbasis Intuitif thingking pada permainan Matchpolly dalam menurunkan kecemasan matematika di era globalisasi

Oleh : Siti Ghoyatul Muna, Tadris Matematika IAIN Kudus, ghoyatulmua67@gmail.com

 

Pembelajaran matematika menjadi salah satu pembelajaran yang dapat melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir matematis yakni berfikir secara sistematis, logis, kritis dan kreatif. Sebagaimana dalam Permendiknas No 22 Tahun 2006 bahwa matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan kemampuan berpikir manusia (Depdiknas, 2006). Adapun Depdiknas (2006, p.140) telah menetapkan tujuan pembelajaran matematika untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa memiliki kemampuan (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah, (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yangdiperoleh, (4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Pembelajaran matematika yang dilaksanakan di sekolah saat ini masih belum menunjukkan tercapainya tujuan pembelajaran matematika secara maksimal. Berdasarkan hasil survei TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam pembelajaran matematika masih sangat jauh dari rata-rata internasional. Sementara itu studi tiga (3) tahunan PISA, yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebuah badan PBB yang berkedudukan di Paris, bertujuan untuk mengetahui literasi matematika peserta didik.Fokus studi PISA adalah kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi dan memahami serta menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Studi yang dilakukan mulai tahun 2000 menempatkan Indonesia pada posisi 39 dari 41 negara, tahun 2003 pada posisi 38 dari 40 negara, tahun 2006 pada posisi 50 dari 57 negara, tahun 2009 pada posisi 61 dari 65 negara, tahun 2012 pada posisi 64 dari 65 negara, dan yang terakhir tahun 2015 pada posisi 62 dari 70 negara (PISA, 2015).

Hal tersebut terjadi karena kurangnya minata siswa untuk belajar dan mengambangkan matematika dimana mereka berangggapan jika berbicara mengenai pembelajaran matematika di sekolah tidak terlepas dari masalah atau problem yang terdapat di dalamnya. Selain itu matematika sering dikeluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan siswa karena diajarkan dengan metode yang monoton, dimana guru menerangkan materi sementara siswanya hanya mencatat, sehingga nilai matematika siswa rendah dibanding nilai pelajaran lain. Salah satu faktor rendahnya hasil belajar siswa, bukan semata-mata karena materi yang sulit, namun terlebih disebabkan oleh proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Apalagi Indonesia memasuki era globalisasi dimana perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangat pesat terutama dalam bidang informasi, begitu cepatnya sehingga informasi yang terjadi di dunia dapat kita ketahui dengan cepat yang mengakibatkan tidak ada batas waktu dan tempat tinggal di negara manapun. Bahkan saat ini Indonesia sudah memasuki era industri 4.0 yaitu  berbasis cyber atau komputer dimana mengalami perkembangan di berbagai bidang termasuk pendidikan. Namun dengan perkembangan teknologi tersebut banyak pihak yang tidak pandai memanfaatkan teknologi dan cenderung menyalahgunakan teknologi di berbagai bidang umumnya para remaja dan siswa sekolah mereka lebih aktif dalam sosial media dari pada pembelajaran disekolah hal ini terbukti banyak siswa yang tidak memeperdulikan penjelasan dari guru namun asik main dengan gadged mereka. Selai itu banyak penyimpangan sosial terjadi dikarenakan penyalahgunaan teknologi seperti narkoba, seks bebas, gaya hedonisme, westernisasi bahkan cenderung menimbulkan lunturnya rasa patriotisme dan nasionalisme atau cinta tanah serta berbagai  dampak yang lain.

Adapun dari kasus tersebut perkembangan teknologi juga dapat menjadi  boomerang bagi bangsa Indonesia. Maka dari itu dibutuhkan pendidikan yang tepat karena pendidkan memiliki peran penting untuk mengubah pribadi suatu individu namun ironisnya banyak siswa malas untuk belajar maupun berpartisipasi dalam pembeljaran di sekolah mereka menganggap bahwa pembelajaran di sekolah itu membosankan. Selain itu remaja di era globalisasi memiliki pola fikir serba instan sehingga apabila terdapat kesulitan dalam pembelajaran terutama matematika akan menjadi momok yang menakutkan sehingga menimbulkan kecemasan matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling ditakuti dan dibenci siswa karena pembelajarannya yang monoton serta kurangnya kemampuan siswa untuk menyerap materi matematika.

Kecemasan matematika menurut Fiore (1999) yaitu kebingungan, ketidakmampuan, ketidakbertenagaan, dan keadaan kacau secara mental yang dialami orang ketika berhadapan dalam permasalahan dan pemecahan masalah matematika. Tobias menjelaskan bahwa kecemasan matematika merupakan ketegangan dan kecemasan yang dialami seseorang dalam memanipulasi bilangan atau angka serta pemecahan masalah yang berkaitan dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan situasi akademik (Wahyudin, 2010). Jadi, kecemasan matematika yaitu perasaan takut dan cemas yang melanda seseorang ketika mengikuti kelas matematika, menyelesaikan masalah matematika, dan mendiskusikannya. Menurut Erdogan, etal. (2011), kecemasan matematika yang dialami peserta didik tergolong ke dalam state anxiety, karena kecemasan matematika tersebut muncul pada situasi tertentu, sebagai contoh ketika menghadapi pembelajaran atau ujian matematika.

Kecenderungan pembelajaran matematika saat ini adalah pembelajaran yang memusat pada keterlibatan siswa secara aktif. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan di sekolah-sekolah masih berjalan secara konvensional. Banyak guru matematika yang mendominasi pelajaran sehingga aktivitas siswa cenderung kurang. Hal ini tentu saja berdampak pada pencapaian hasil belajar siswa. Yuwono (2001) menyebutkan bahwa pengajaran matematika secara konvensional mengakibatkan siswa hanya bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran. Selain itu salah satu keluhan yang banyak terdengar dalam dunia pendidikan matematika adalah kurangnya keterkaitan antara pembelajaran matematika di sekolah dengan dunia nyata dan kehidupan sehari-hari siswa. Untuk itu, dalam meningkatkan pembelajaran yang memberikan nuansa menyenangkan bagi siswa, serta dapat mengakrabkan matematika dengan siswa.

Sehingga alur pembelajaran matematika perlu dialihkan dengan membiasakan peserta didik belajar aktif, kreatif, dan menyenangkan sehingga diharapkan kecemasan matematika dapat diturunkan dan berakibat pada kemampuan literasi matematika yang meningkat. Alternatif pembelajaran yang dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu pembelajaran inovatif dengan menerapkan pembelajaran bernuansa etnomatematika yang dikemas dalam pembelajaran probing-prompting. Pada pembelajaran probing-prompting, guru menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun peserta didik mengaitkan pengetahuan dan pengalamannya sehingga peserta didik dapat mengonstruksi konsep, prinsip, dan aturan menjadi pengetahuan baru. Melalui pembelajaran tersebut peserta didik terbiasa untuk berinteraksi dan mendapatkan pertanyaan yang membantunya untuk menemukan konsep matematika yang dipahami. Pembelajaran probingprompting bernuansa etnomatematika yaitu pembelajaran yang mengangkat keunggulan budaya daerah yang ada di Indonesia sebagai referensi dalam mengajarkan materi pecahan yang dikemas dalam pembelajaran probing-prompting.

Pembelajaran etnomatematika atau etnomatematics learning juga dapat memunculkan kecerdasan intuitif, dimana menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), intuitif adalah bersifat (secara) intuisi, berdasarkan bisikan (gerak) hati. Selanjutnya arti kata intuisi sendiri adalah daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari, bisikan hati, gerak hati. Fischbein mendefinisikan intuisi sebagai immediate knowledge (pengetahuan langsung) yang disetujui secara langsung tanpa pembenaran. Sejalan dengan itu Piaget memandang intuisi sebagai kognisi yang diterima langsung tanpa membutuhkan justifikasi atau menginterpretasi secara eksplisit. Sehingga intuisi dihasilkan tanpa mencurahkan banyak usaha dan tidak perlu banyak mencurahkan pikiran karena sebagian besar terjadi dibawah sadar dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa intuisi berlawanan dengan analitik, karena analitik membutuhkan konfirmasi logis (pembuktian) sedangkan intuisi merupakan kognisi segera tentang suatu konsep yang tidak disertai pembuktian ketat. Apabila dikaitkan dengan pemahaman matematika maka proses tersebut bisa dimanfaatkan oleh pendidik melalui rangsangan berupa pemberian soal yang dilakukan secara berulang untuk melihat apakah hal tersebut terjadi kembali sehingga bisa digeneralisasikan untuk mendapatkan solusi yang berperan dalam peningkatan kualitas ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Kecerdasan intuisi matematika pada siswa jika dilatih terus menerus akan mengarah pada pemecahan masalah pada matematika.

Adapun matematika adalah ilmu dasar yang melandasi banyak cabang ilmu pengetahuan lainnya. Sebagai ilmu dasar, pembelajaran matematika di tingkat dasar, menengah, dan atas seringkali merupakan pembelajaran yang abstrak dan proses tidak mengarah kepada pembelajaran pemecahan masalah (problem solving) sehingga kemampuan berpikir kritis, logis, dan analitis dari seseorang yang mempelajari matematika kurang tergali secara baik. Matematika dapat dibuat menjadi suatu rekreasi melalui berbagai macam permainan. Tanpa mengurangi pemahaman akan konsep dasar matematika, pembelajaran matematika akan lebih menarik dipelajari melalui permainan ini. Proses pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika melalui permainan ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, logis, dan analitis.

Bahakan matematika selalu identik dengan masalah pencacahan dan perhitungan yang mempunyai hasil akhir yang bernilai pasti. Akan tetapi, matematika sebenarnya adalah sebuah ilmu yang menggabungkan logika dalam berpikir, berimajinasi, menganalisis, serta kemampuan menghitung. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya cabang ilmu matematika yang menggabungkan seluruh kemampuan tersebut, misalnya statistika, matematika diskrit, matematika kombinatorik, aljabar, teori bilangan, matematika rekreasi, dan lain-lain. Salah satu cabang matematika yang menarik adalah matematika rekreasi. Matematika rekreasi seringkali digunakan oleh matematikawan untuk bermain-main karena rasa penasarannya yang ingin mengerjakan. Selain itu, matematika rekreasi juga digunakan untuk mengasah logika dalam kesenangan tetapi tetap serius, mengetahui indahnya matematika dalam hidup, mengeksplorasi keajaiban matematika, melacak kebenaran hasil matematika, serta melatih ketelitian.

Dengan demikian pembelajaran etnomatematika dapat diakselerasikan dengan matematika rekreasi melaui permainan salah satunya media permainan monopoli. Shirley (2014) berpandangan etno menggambarkan semua hal yang membentuk identitas budaya suatu kelompok, yaitu bahasa, kode, nilai-nilai, jargon, keyakinan, makanan dan pakaian, kebiasaan, dan sifat-sifat fisik. Sedangkan matematika mencakup pandangan yang luas mengenai aritmetika, mengklasifikasikan, mengurutkan, menyimpulkan, dan modeling. Etnomatematika berfungsi untuk mengekspresikan hubungan antara budaya dan matematika. Dengan demikian, etnomatematika adalah suatu ilmu yang digunakan untuk memahami bagaimana matematika diadaptasi dari sebuah budayau. Dengan mengenal budaya setempat siswa akan lebih mencintai bangsa Indonesia serta budaya dan tradisi yang ada di Indonesia disamping itu  dapat belajar matematika dengan membiasakan peserta didik belajar aktif, kreatif, dan menyenangkan sehingga diharapkan kecemasan matematika dapat diturunkan dan berakibat pada kemampuan literasi matematika yang meningkat.

Alternatif pembelajaran yang dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu pembelajaran inovatif. Media mathpolly juga selaras reoorientasi denagan kecerdasan intusi dan sesuai drngan era revolusi industri 4.0 yang sarat dengan aspek pemanfaatan teknologi digital sehingga ramah lingkungan dan pengembangan kompetensi yang meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan kemampuan yang inovatif, kemampuan dan keterampilan berkomunikasi yang baik, kemampuan kerjasama, serta kepercayaan diri yang tinggi. Pemanfaatan mathpolly dapat dikolaborasikan dengan teknologi augmented reality yaitu teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata.

Mathcpolly atau mathematic culture monopolly merupakan media pembelajaran etnomatematika sederhana dimana menggunakan berbagai budaya yang ada di Indonesia kemudian diakseleresasikan dengan prinsip matematika seperti geometri, aritmatika sosial dan lain sebagainya. Dimana berbentuk permainan monopoli pada umumnya namun tidak berisi gambar berbagai negara di dunia melainkan terdiri dari berbagai macam gambar peninggalan sejarah maupun budaya dan tradisi yang ada di kota-kota Indonesia. Seperti gambar candi prambanan yang ada di Yogyakarta siswa akan disuruh untuk mencari bidang geometri apa saja yang ada di candi tersebut misalnya bidang datar, bangun ruang, kesimetrisan selain itu juga terdapat budaya lain seperti budaya batik di Madura maka siswa akan mencari unsur-unsur matematika yang terkandung dalam batik tersebut.

Mathcpolly berisi gambar atau pesan singkat mengenai sikap ramah lingkungan sehingga sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dimana pembangunan ini harus memperhatikan pemanfaatan lingkungan hidup dan kelestarian lingkungnnya seperti penghijauan, penanaman pohon, buang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya yang menjadi pengganti dari kesempatan, dana umum, bayar pajak, perusahaan air, parkir dan perusahaan listrik dimana terdapat dalam permainan monopoli pada umumnya. Adapun di dalam Mathpolly atau mathematic culture monopolly dana umum diubah menjadi penghijauan sedangkan bayar pajak diubah menjadi polusi udara selanjutnya kesempatan diubah menjadi lingkungan bersih selain itu perusahan air dan listrik diubah menjadi energi air dan listrik. Penggantian hal tersebut dikarenakan keduanya saling memliki keterkaitan sebagai contoh dana umum diubah menjadi penghijauan karena kita masih bisa memperbaiki lingkungan dengan upaya atau dana kita sendiri yakni reboisasi sedangkan kesempatan diubah menjadi lingkungan bersih dengan tujuan masih banyak kesempatan bagi kita menjadikan lingkungan kotor kita menjadi bersih. Dengan memainkan mathcpolly akan melatih kecerdasan intuitif atau intuitif thingking sehingan dapat menurunkan kecemasan matematika karena siswa akan senang, aktif, dan kreatif selain itu dapat meningkatkan pengetahuan siswa mengenai gemometri.

 

 

PENERAPAN MATEMATIKA YANG SEMAKIN DIBUTUHKAN VS KURANGNYA PEMINAT BIDANG MATEMATIKA

            Di era globalisasi ini, teknologi semakin berkembang. Kemajuan teknologi tidak pernah lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan. Dibalik ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang Matematika menjadi dasar dari segala ilmu pengetahuan. Matematika banyak diterapkan di berbagai bidang dan berbagai hal. Misalnya, penerapan kalkulus di bidang teknik, aljabar linear dalam ilmu genetika, teori graf dalam pemetaan ruang, logika kabur dalam pembuatan sebuah sistem kecepatan mesin, dan sebagainya. Dari realita tersebut, dapat dikatakan bahwa Matematika semakin dibutuhkan dalam perkembangan teknologi di era globalisasi ini.

Sayangnya, meskipun Matematika semakin dibutuhkan di era globalisasi ini, peminat Matematika masih sedikit. Masih banyak orang yang kurang berminat bekerja di bidang Matematika. Alasannya bermacam-macam. Ada orang yang menganggap bahwa Matematika terlalu abstrak untuk dipahami. Karena hal itu, orang tersebut tidak dapat mengerti penerapan Matematika. Akibatnya, orang tersebut tidak mengerti peluang kerja di bidang Matematika, sehingga banyak orang kurang tertarik bekerja di bidang Matematika. Selain itu, ada juga orang yang kurang berminat Matematika karena pembelajaran Matematika di sekolahnya dulu kurang menyenangkan baginya. Misalnya, suasana belajar Matematika yang membosankan, takut dihukum jika salah menjawab. Dari sebagian alasan-alasan tersebut, hal itu bisa mempengaruhi minat seseorang di Matematika. Karena banyak orang kurang minat bekerja di bidang Matematika, banyak lapangan pekerjaan di bidang Matematika yang masih kurang jumlah pekerjanya. Misalnya, aktuaris. Di Indonesia jumlah aktuaris masih kurang. Padahal banyak perusahaan asuransi yang membutuhkan aktuaris. Akibatnya tidak semua perusahaan asuransi mempunyai aktuaris.

Ada banyak cara untuk menambah peminat Matematika. Cara pertama, cobalah mengatur kondisi lingkungan pertemanan kita dengan menghindari bergaul dengan orang-orang yang tidak menyukai Matematika. Jika seseorang sering dikelilingi oleh lingkungan yang memberi pengaruh negatif, sugesti negatif tentang Matematika secara tidak sadar masuk ke dalam otak seseorang. Cara kedua, pembelajaran Matematika di sekolah-sekolah perlu dibenahi. Suasana pembelajaran Matematika di sekolah sebaiknya dibuat sekreatif mungkin. Contohnya, guru Matematika di SD bisa memakai benda konkret seperti kelereng, bola, dan mobil-mobilan sebagai alat peraga untuk belajar Matematika. Selain itu, pembelajaran Matematika di sekolah sebaiknya berfokus pada pemahaman konsep suatu teori dalam Matematika, bukan hanya menghapal rumus. Guru-guru di sekolah tidak boleh bosan mengulang materi jika ada murid yang masih belum mengerti konsep teori dalam pembelajaran Matematika. Ketiga, games dapat menjadi media pembelajaran Matematika. Games yang dibuat adalah games yang berkaitan dengan permasalahan Matematika. Dengan memainkan games tersebut, secara tidak sadar pemainnya dapat memahami konsep teori dalam Matematika tanpa harus berkutat dengan buku dan rumus-rumus dalam waktu yang lama.

Jika peminat Matematika bertambah, maka semakin bertambah orang yang mau bekerja di bidang Matematika. Hal itu dapat mencukupkan kebutuhan Matematika dalam perkembangan teknologi di era globalisasi ini.

 

 

 

Matematika di Era Big Data

            Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin maju membuat segala sesuatu menjadi praktis dan cepat. Berkomunikasi, berniaga, berbisnis dan masih banyak lagi. Kemajuan dan kecanggihan tersebut tidak lepas dari perkembangan volume data yang kini semakin besar dan semakin kompleks.

Perkembangan volume data yang semakin kompleks tersebut kini lebih dikenal dengan Big Data atau ‘data yang besar’. Big Data adalah himpunan data dalam jumlah yang sangat besar, kompleks, dan tidak terstruktur, sehingga sulit untuk ditangani dengan menggunakan aplikasi atau pemroses yang berbasis data biasa. Big Data hanya dapat diproses menggunakan aplikasi yang memang digunakan sebagai klasifikator untuk jumah data yang besar.

Konsep dari Big Data sendiri mendapat perhatian lebih sehingga analis industry Doug Laney memberikan definisi yang sekarang lebih dikenal dengan 3V, yaitu Volume, Velocity, dan Variety. Pertama adalah volume atau lebih mudah kita sebut sebagai ‘ukuran’. Mengartikan bahwa pengorganisir atau pengumpulan data dari berbagai sumber, mulai dari informasi mesin, transaksi bisnis atau perniagaan, sampai social media yang sangat ramai diperbincangan di era globalisasi dan khususnya generasi millenial. Kedua adalah Velocity atau ‘kecepatan’. Pada Era industry 3.0 mungkin kecepatan pengambilan data sudah termasuk cepat, namun di era industry 4.0 yang lebih mengusung Big Data mempunyai kecepatan pengambilan dan penyampaian informasi yang jauh lebih cepat. Ketiga adalah Variety atau ‘jenis data’. Di dalam Big Data yang notabene mengandung ribuan atau bahkan miliaran data, terdiri dari bermacam-macam jenis data. Dari jenis data tersebut mengandung informasi yang sangat penting demi kemajuan teknologi.

Big Data atau data yang besar digunakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi. Pengumpulan data tersebut kemudian digunakan untuk menganalisa dan menentukan strategi bisnis yang tepat. Namun, dalam menganalisa dan menentukan strategi dengan data yang sangat besar bukan hal mudah. Tidak serta merta semua data yang sudah terkumpul mudah untuk diklasifikasikan. Hal ini memerlukan pemikiran yang logis sekaligus kompleks untuk menghasilkan keputusan yang baik.

Dalam hal ini penggunaan ilmu matematika sebagai ilmu dasar dan logis sangat diperlukan. Di dalam Big Data sendiri sangat banyak bahkan hampir semua data berbasis angka. Ilmu matematika dapat digunakan untuk upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan data yang tidak dibutuhkan dalam suatu pengambilan keputusan. Hal ini sangat penting karena dengan mengurangi data, pemrosesan data tidak akan membutuhkan waktu yang terlalu lama dan keputusan atau hasil dari proses data tersebut tidak akan berubah. Matematika dapat menentukan solusi yang lebih sederhana dengan menggabungkan ketiga konsep dari Big Data.

Di era Big Data ilmu matematika terapan, yang bersumber dari ilmu dasar, mampu memasuki dunia pekerjaan dan memberikan eksistensi tersendiri. Data scientist adalah profesi dimana pekerjanya bertugas mengolah data dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Profesi data scientist sangat cocok dalam era big data, karena menjadi seorang data scientist harus memiliki kemampuan programming dan ilmu matematika yang sangat tinggi. Namun, tidak menutup kemungkinan masih banyak pekerjaan lain yang bertugas dalam pengolahan data.

Ilmu matematika memiliki kaitan yang sangat erat dengan kemunculan Big Data di era industry 4.0 ini. Dengan pengolahan atau pemrosesan data yang tidak sederhana, menjadikan matematika terapan menjadi sangat penting. Pemikiran logis dan upaya mengurangi informasi yang tidak berkaitan dengan tujuan strategi bisnis menjadi hal yang sangat penting. Kemunculan Big Data juga menjadikan ilmu matematika memiliki eksistensi tersendiri. Dari matematika yang hanya dikenal dengan kalkulasi, kini juga dikenal menjadi ilmu sains di bidang pengolahan data. Saat ini sudah banyak pekerjaan yang memungkinkan penggunaan ilmu matematika seperti data scientist. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk profesi yang lain. Jadi, matematika memiliki peran yang sangat penting di era Big Data.

 

 

 

Pengembangan Literasi Matematika dalam Pembelajaran di
Kelas di Era Industri 4.0
oleh : Faiqotul Munawwaroh
Mahasiswa Semester 2 Pendidikan Metematika
Universitas Muhammadiyah Purworejo
A. Urgensi Matematika di Era Industri 4.0.
Salah satu ciri abad 21 adalah percepatan pencapaian ilmu
pengetahuan dan teknologi, sistem komunikasi, dan mudahnya akses
internet. Dunia telah menjadi mengecil seolah-olah tidak ada batasnya dan
setiap saat dapat terkoneksi dengan orang di berbagai belahan dunia.
Perubahan besar terjadi pada hampir semua aspek. Pada abad ini juga telah
terjadi transformasi besar dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan
budaya karena terpicu oleh perubahan yang mendasar yang saling terkait
yaitu kemajuan ilmu dan teknologi, demografi, globalisasi, dan lingkungan
(Mulford, 2008). Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan
terjangkaunya biaya transportasi menguatkan pengaruh globalisasi
terhadap struktur, model, dan tipe kebutuhan manusia.
Globalisasi juga memicu perbandingan internasional antar sekolah,
kurikulum, metode penilaian, dan prestasi siswa. Konsekuensinya, sekolah
dituntut untuk unggul dan kompetitif (Beare, 2001) serta harus
menghadapi isu-isu dunia seperti lingkungan, kualitas hidup, dan identitas.
Selain itu, globalisasi juga turut berperan menyebarkan pengaruh revolusi
industri 4.0 yang bertumpu pada kerjasama manusia dengan sistem
teknologi komputer untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Perubahan yang terjadi pada revolusi industri 4.0 juga
mempengaruhi karakter, cara berpikir, dan persepsi tentang dunia yang
akan dibangun oleh manusia baik dunia kerja ataupun keterampilan yang
dibutuhkan. Tak pelak hal ini perlu kesadaran bersama untuk mencari
formulasi yang tepat dalam menghadapi perubahan di era industri 4.0.
Industri 4.0 dengan segala mekanismenya memicu perubahan persiapan
tenaga kerja yang disiapkan oleh dunia pendidikan yang akan
mempengaruhi relasi di dalamnya seperti konten mata pelajaran,
pemanfaatan teknologi informasi dan metodelogi pembelajaran.
Dalam menyongsong era industri 4.0 pemahaman tentang
matematika sangat penting bagi kesiapan siswa. Tantangan yang dihadapi
oleh dunia pendidikan pun semakin kompleks. Pemahaman tentang
matematika, penalaran dan penggunaan alat-alat matematika sangatlah
penting bagi siswa saat mereka menghadapi masalah dan tantangan dalam
aspek pribadi, pekerjaan, masyarakat, dan aspek ilmiah dalam kehidupan
mereka. Dengan demikian penting untuk memiliki pemahaman tentang
pentingnya melibatkan siswa di sekolah untuk menerapkan matematika
dalam rangka memahami isu-isu penting dan memecahkan masalah yang
bermakna dalam era indusri 4.0. Oleh karena itu literasi matematika dalam
konteks pembelajaran di ruang kelas sudah seharusnya dilakukan.
Perlunya literasi matematika sebagaimana OECD menyatakan
bahwa definisi literasi matematis pada PISA 2015 tetap menggunakan
definisi tahun 2012 yang mengalami sedikit perubahan dari definisi tahun
2011. OECD tahun 2016 memberikan definisi berikut.
Mathematical literacy is an individual’s capacity to formulate, employ and
interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning
mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and
tools to describe, explain and predict phenomena. It assists individuals to
recognize the role that mathematics plays in the world and to make the
well-founded judgements and decisions needed by constructive, engaged
and reflective citizens.
Dari difinisi ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika
dilakukan dengan partisipasi aktif untuk melakukan penalaran secara
matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematis
dalam menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena. Secara
khusus, kata kerja “merumuskan”, “menggunakan”, dan “menafsirkan”
menunjuk pada tiga proses saat siswa terlibat dalam pemecahan masalah.
Alat matematis yang disebutkan dalam definisi mengacu pada berbagai
peralatan fisik dan digital, software dan perangkat perhitungan yang sangat
erat kaitanya dengan tradisi di revolusi industry 4.0.
B. Pengembangan Kemampuan Literasi Matematis
OECD (2013) mengembangkan empat kategori materi matematika
dalam pengembangan item test PISA tahun 2015, yaitu: (1) perubahan
dan hubungan (change and relationships), (2) ruang dan bentuk (space
and shape), (3) kuantitas (quantity), dan (4) ketidakpastian dan data
(uncertainty and data). Terkait dengan materi perubahan dan hubungan
secara matematis, ini berarti diperlukan pemodelan terhadap perubahan
dan hubungannya dengan fungsi atau persamaan yang sesuai, termasuk
membuat, menginterpretasikan, dan menerjemahkan simbol dan
representasi grafik dari hubungan tersebut. Misalnya perubahan dan
hubungan berkaitan erat dengan pertumbuhan organisme, siklus musim
serta pola cuaca, pertumbuhan lapangan kerja dan kondisi ekonomi. Ini
berarti aspek materi matematika harus meliputi fungsi aljabar, termasuk
di dalamnya ekspresi aljabar, persamaan dan ketidaksamaan, tabulasi dan
representasi grafik, pemodelan dan interpretasi phenomena perubahan.
Kategori ruang dan bentuk meliputi cakupan yang luas dari
phenomena alam, seperti pola-pola, sifat-sifat objek, posisi dan orientasi,
representasi objek, penyajian informasi visual, navigasi dan interaksi
dinamis dengan bentuk real. Sementara itu geometri memberikan fondasi
yang penting terkait ruang dan bentuk, tetapi harus dikembangkan dari
geometri tradisional, baik dalam isi, arti, metode, menggambar elemenelemen
dari area matematika lainnya seperti visualisasi spasial,
pengukuran dan aljabar. Sebagai contoh, bentuk-bentuk dapat berubah,
dan titik-titik dapat bergerak sepanjang tempat kedudukannya, hal ini
memerlukan konsep fungsi. Formula-formula tentang pengukuran
menjadi hal yang utama dalam area ini. Literasi matematika dalam ruang
dan bentuk meliputi memahami persfektif, membuat dan membaca peta,
transformasi bentuk dengan (tanpa) teknologi, memahami gambar tiga
dimensi, dan membangun representasi bentuk-bentuk.
Konsep tentang kuantitas mungkin sangat erat kaitannya dengan
fungsi. Hal ini termasuk kuantifikasi atribut dari objek-objek, hubunganhubungan
antar objek, menduga interpretasi, dan argumentasi berbasis
kuantitas. Termasuk kuantifikasi meliputi memahami pengukuran,
menghitung, panjang, besar, indikator, satuan, ukuran relative, tren
numerik dan pola- pola. Aspek penalaran kuantitatif termasuk literasi
kuantitas. Kuantifikasi adalah metode utama untuk menggambar dan
mengukur berbagai objek. Hal ini termasuk menguji perubahan dan
hubungan, mengorganisasi dan menginterpretasi data, mengukur dan
menilai ketidakpastian. Oleh karena itu, literasi matematika dalam bidang
kuantitas meliputi menerapkan pengetahuan tentang bilangan dan
operasinya pada cakupan yang lebih luas.
Sedangkan TIMSS mengembangkan domain isi dan kognitif dalam
penilaian matematika. Domain isi untuk grade 4 meliputi bilangan,
bentuk geometri dan pengukuran, dan penyajian data, sedangkan untuk
grade 8 meliputi bilangan, aljabar, geometri, data dan peluang (Mullis dan
Martin, 2013). Sementara itu untuk tingkat lanjut (pra-universitas, grade
12), domain isi meliputi aljabar, kalkulus, dan geometri. Domain kognitif
meliputi pemahaman, penerapan, dan penalaran (Mullis dan Martin,
2014). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada tingkat lanjut, isi aljabar
meliputi ekspresi dan operasi, persamaan dan pertidaksamaan, dan fungsi.
Materi ekspresi dan operasi bentuk aljabar meliputi: (1)operasi dengan
eksponensial, logaritma, polinomial, rasional, dan bentuk akar, dan
perfom dengan operasi bilangan kompleks, (2)mengevaluasi ekspresi
aljabar, dan (3)menentukan suku ke n dari barisan dan deret aritmetika
maupun geometri, baik terhingga maupun takhingga. Materi persamaan
dan pertidaksamaan meliputi: (1)menyelesaikan persamaan linear dan
kuadrat, pertidaksamaan linear dan kuadrat, termasuk sistem persamaan
dan pertidaksamaan, (2)menyelesaikan persamaan eksponensial,
logaritma, polinomial, rational, dan bentuk akar, dan (3)menggunakan
persamaan dan pertidaksamaan untuk menyelesaikan problem-problem
kontekstual. Materi fungsi meliputi: (1)menginterpretasikan, relasi, dan
membangun representasi yang ekivalen tentang fungsi, termasuk fungsi
komposit, pasangan berurutan, tabel, grafik, formula, dan kata-kata, dan
(2)mengidentfikasi dan membedakan sifat-sifat fungsi-fungsi
eksponensial, logaritma, polinomial, rasional, dan bentuk akar.
Isi Kalkulus meliputi limit, differensial, dan integral. Materi limit
meliputi: (1)menentukan limit fungsi, termasuk fungsi rasional, dan
(2)mengenal dan menggambarkan kondisi kontinyuitas dan diferensiabel
suatu fungsi. Materi differensial meliputi: (1)mendeferensialkan fungsifungsi
polinomial, eksponensial, logaritma, trigonmetri, rasional, bentuk
akar, komposit, serta mendeferensialkan produk fungsi dan pembagian
fungsi, (2)menggunakan turunan untuk memecahkan masalah optimasi
dan perubahan, (3)menggunakan turunan pertama dan kedua untuk
menentukan gradien, ekstrem, titik belok dari fungsi polinomial dan
rasional, dan (4)menggunakan turunan pertama dan kedua untuk
membuat sketsa dan menginterpretasikan grafik fungsi. Materi integral
meliputi: (1)integral fungsi polinomial, eksponensial, trigonomteri, dan
rasional sederhana, dan (2)mengevaluasi integral tertentu, dan
menggunakan integral untuk menghitung luas dan volume.
Geometri meliputi geometri koordinat dan non-koordinat, dan
trigonometri. Materi geomteri koordinat dan non-koordinat meliputi:
(1)menggunakan geometri non-koordinat untuk menyelesaikan masalah
dalam dua dan tiga dimensi, (2)menggunakan geometri koordinat untuk
menyelesaikan masalah dalam dimensi dua, dan (3)menerapkam sifatsifat
penjumlahan dan pengurangan vektor untuk menyelesaikan masalah.
Materi trigonometri meliputi: (1)menggunakan trigonomteri untuk
menyelesaikan masalah, (2) mengenal, menginterpretasikan, dan
menggambar grafik fungsi sinus, cosinus, dan tangent, dan (3)
menyelesaikan masalah yang melibatkan fungsi trigonometri.
Memperhatikan kurikulum matematika sekolah, guru matematika
dituntut menguasai konsep/materi matematika di antaranya tentang: (1)
variabel, persamaan, dan pernyataan-pernyataan aljabar, (2) bentukbentuk
fungsi dan grafiknya, (3) geometri dan trigonometri, (4)
probabilitas, (5) statistik dan analisis data, (6) barisan dan deret, (7) teori
bilangan, (8) matriks dan vektor, (9) irisan kerucut, (10) kalkulus, (11)
matematika diskrit, (12) geometri non-euclid, dan (13) argumentasi dan
bukti.
Standar kurikulum matematika sekarang secara eksplisit
menekankan hubungan (connection) sebagai salah satu proses penting
dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran harus membuat siswa
dapat mengenal dan menggunakan dalam konteks di luar matematika. Hal
ini termasuk membuat hubungan terhadap “dunia nyata”, yaitu dunia di
luar kelas. Guru sekarang didorong untuk membantu siswanya membuat
hubungan yang lebih realistis antara matematika dengan kehidupan
sehingga membuat matematika lebih bermakna. Guru dituntut memiliki
ketrampilan lebih untuk membawa matematika yang abstrak menjadi
problem-solving dalam konterks “dunia nyata”.
Dalam kurikulum 20013 yang menggunakan pendekatan ilmiah
yang bertumpu pada teori pembelajaran konstruktivisme meliputi
hipotesis, eksplorasi,observasi, penemuan, refleksi, dan akhirnya
membuat kesimpulan tentang suatu konsep melalui investigasi. Siswa
dituntut mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui proses
obeservasi dan kesimpulan bersasarkan data yang valid. Guru berperan
sebagai seorang fasilitator dalam membimbing siswa serta membuat
aktivitas yang mendukung konstruksi pengetahuan siswa. Oleh karena itu,
guru harus ahli dalam membuat pertanyaan-pertanyaan dan memotivasi
siswa dalam refleksi kognisi yang diperlukan untuk membangun
pengetahuan yang diinginkan (Fast dan Hankes, 2011). Diharapakan
dengan landasan konstrukivisme maka aplikasi matematika di dunia nyata
dapat teratasi. Melalui konstruktivisme sebagai landasan pembelajaran
maka ada pengetahuan sebelumnya (prior knowledge) yang akan menjadi
jembatan pengetahuan baru yang akan dibangun. Guru memperkenalkan
aplikasi/penerapannya sebelum masuk ke perhitungan formal matematis
dan kemudian membawa intuisi siswa untuk memahami matematika.
Dalam kurikulum 2013 yang dikenal dengan pendekatan saintific,
yang sebenarnya merupakan implementasi dari teori belajar
konstruktivisme itu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran di
antaranya meliputi: (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, (2)
pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, (3) murid aktif
mengkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan
konsep ilmiah, (4) guru sekedar membantu menyediakan sarana dan
situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. Oleh karena itu, diperlukan
perubahan peran guru dalam pembelajaran di kelas, dari penceramah ke
fasilitator.
C. Penerapan Teknologi dalam Pembelajaran
Era industri 4.0 ditandai dengan mudahnya akses informasi dan
pengetahuan dengan hitungan detik. Sumber-sumber pembelajran dapat
diperoleh secara mudah kapanpun dan dimanapun. Perubahan itu juga
harus dapat dijadikan peluang guru untuk mengoptimalkan manfaat
teknologi informasi untuk akttivitas pembelajaran. Konsep pembelajaran
campuran yang dikenal dengan blended learning sekarang ini menjadi
trend baru. Guru sudah tidak menjadi satu-satunya pemegang otoritas
keilmuan lagi. Selain itu penemuan alat bantu pembelajaran mulai
menggeliat seiring dengan majunya perkembangan teknologi komputer.
Bebarapa software matematika yang bisa dimanfaatkan diantaranya:
a. Cabri II Plus merupakan software matematika yang dirancang untuk
membantu pengguna dalam mengkonstruksi dan mengeksplorasi bangun
geometri dengan teliti dan tepat.
b. Wolfram Mathematica yang sering disebut dengan Mathematica
merupakan suatu sistem aljabar komputer yang mengintegrasikan
kemampuan komputasi (simbolik, numerik), visualisai (grafik) Bahasa
Pemprograman, dan pengolahan kata ke dalam suatu lingkungan yang
sudah digunakan.
c. Geogebra hampir mirip denga Cabri II Plus akan tetapi lebih kompleks.
Geogebra merupakan salah satu software metematika dinamis yang
memuat kajian geometri, aljabar, dan kalklus.
d. Matlab ( Matirx Laboratory) adalah sebuah program untuk analisis dan
komputasi numerik dan merupakan suatu Bahasa pemrograman
matematika lanjutan yang dibentuk dengan dasar pemikiran menggunakan
sifat dan bentuk matriks. melibatkan operasi matematika elemen, matriks,
optimasi, dan aproksimasi.
Era industri 4.0 adalah era kerajasama antara manusia dengan
teknologi informasi. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK), memanfaatkan kemajuan teknologi informasi pada
era ini akan sangat membantu guru dalam membentuk pembelajar mandiri
(independent learner) sekaligus menanamkan literasi teknologi.
Perubahan-perubahan tatanan peradaban global yang semakin tidak
menentu harus disikapi dengan optimisme sekaligus merupakan peluang
dan tantangan dalam dunia pendidikan. Paradigma ilmu pengetahuan
dibawah bayang-bayang industri 4.0, membawa serangkian perubahan
terhadap cara pembelajaran dan media yang digunakan. Pembelajaran
yang menekankan pada dunia nyata akan lebih berkontribusi terhadap
peradaban global ini. Didukung dengan pendekatan ilmiah dan kontekstual
maka pembelajaran akan lebih menemukan makna dan kemaslahatan
manusia. Media pembelajaran yang merupakan buah teknologi komputer
bisa dimanfaatkan secara maksimal sehingga membuat aktivitas belajar
siswa lebih interaktif dan menarik.

Referensi
Beare, H. (2001. Creating The Future School. London : RouutledgeFalmer)
Mulford (2008. The Leadership Challenge : Improving Learning in Schools.
Melbourne: Australian Council for Education Research).
Mullis, I.V.S, and Martin, M.O. (ed), 2013, TIMSS 2015 Assesment
Frameworks, Boston: TIMSS and PIRLS International Study Center and
IEA.
Mullis, I.V.S, and Martin, M.O. (ed), 2014, TIMSS Advanced 2015
Assesment Frameworks, Boston: TIMSS and PIRLS International Study
Center and IEA.
OECD, 2013, PISA 2015 Draft Mathematical Framework, Paris: OECD.org

 

 KAWAN, BUKAN LAWAN !!!
(Novelita Petronelia Mekiuw, PMAT USD)
Tidak dapat dipungkiri bahwa era sekarang ini merupakan era yang perkembangannya begitu pesat majunya. Maju dalam berbagai hal salah satunya seperti kemajuan dalam bidang digital dan kemajuan teknologi yang begitu cepat pula. Imbas dari kemajuan dalam teknologi tersebut yang nampak sekali di era sekarang ini ialah mudahnya mengakses berbagai informasi melalui internet. Keberadaan dari internet ini sendiri membuka jalan yang begitu luas dan lebar bagi setiap penggunanya untuk mendapatkan informasi. Eksistensi dari internet ini sendiri pun diandaikan seperti jendela yang mudah dibuka bagi para penghuni rumah. Maksudnya ialah kapan saja ketika penghuni rumah tersebut ingin membuka jendela maka akan dengan sangat mudah penghuni rumah tersebut tinggal membukanya saja. Begitu pula ketika membuka internet, maka bukanlah perkara sulit untuk menggunakannya. Seperti untuk mencari informasi untuk hal yang diinginkan. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa kemajuan teknologi yang mempermudah mengakses informasi melalui internet membuka koneksi dengan area global dapat begitu sangat mudah dan cepat. Bahkan hanya dalam sekejap mata.
Kemajuan dari bidang digital dan teknologi di era sekarang yang begitu maju, berhubungan erat dengan yang namanya globalisasi. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Karena satu sama lain saling mempengaruhi dan mempunyai erat kaitannya. Mengapa ? karena kemajuan di era digital dan teknologi turut menarik peran globalisasi untuk ikut bersama berkembang sehingga keduanya sama – sama mengalami yang namanya kemajuan. Mereka saling berjalan beriringan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pengertian dari globalisasi adalah proses masuknya ruang lingkup dunia. Selain itu, secara garis besar globalisasi memiliki arti perubahan yang besar di dalam masyarakat dunia secara keseluruhan meliputi teknologi, transportasi dan lain sebagainya.
Ada pula pendapat salah satu ahli yaitu Selo Soemardjan yang begitu menarik mengenai pengertian globalisasi. Beliau mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat yang ada di seluruh dunia. Selain itu juga, beliau menyebutkan bahwa globalisasi tersebut merupakan kecenderungan masyarakat yang berada di kota-kota menyatu dengan dunia terutama menyatu dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pariwisata dan juga komunikasi. Beliau pula mengatakan bahwa globalisasi ini memiliki tujuan untuk menyatukan masyarakat dunia dengan mudah tanpa ada halangan waktu apalagi jarak. Meskipun jaraknya bermil-mil
jauhnya, dengan adanya perkembangan teknologi transportasi saat ini bisa memudahkan masyarakat dunia bersatu dan memiliki tujuan yang sama.
Globalisasi secara keseluruhannya disadari membawa dampak yang bukan hanya positif saja namun dampak negatifnya pun tak dapat dibendung keberadaannya. Misalnya, dampak positifnya ialah banyak khalayak dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapa saja yang ada didunia ini meskipun jaraknya begitu jauh,selain itu kemudahan memperoleh informasi pun tak kalah pesatnya. Contohnya, seperti suatu fenomena alam langka yang terjadi di kutub utara maka khalayak yang berada jauh dari kutub utara seperti di Indonesia atau di Australia dapat dengan mudah mengetahuinya dengan cepat bahkan bisa hanya dalam hitungan menit saja. Untuk dampak negatifnya sendiri sudah banyak terhitung jumlahnya. Salah satunya ialah kesenjangan sosial yaitu suatu keadaan/ kondisi yang tidak seimbang dalam kehidupan sosial masyarakat, baik individu maupun kelompok, dimana terjadi ketidakadilan/ ketidaksetaraan distribusi hal-hal yang dianggap penting dalam suatu masyarakat. Maksudnya ialah khalayak yang tidak mampu bersaing dalam era globalisasi ini untuk mencukupi apa yang layaknya dibutuhkan sesuai zaman maka akan merasa tidak adil dengan khalayak yang mampu mencukupi kebutuhan tersebut. Maka antara kedua jenis khalayak tersebut akan sangat nampak kesenjangan sosialnya.
Dari dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi ini sendiri serta merta membutuhkan peran aktif dari dunia pendidikan untuk menyikapi keberadaan dampak dari globalisasi ini. Mengapa ? kemajuan yang ada jika tidak diimbangi dengan yang namanya pendidikan maka serta merta akan merujuk khalayak sekarang untuk terjun kedalam kenegatifan dari globalisasi. Pendidikan ada dimaksudkan untuk membantu khalayak sekarang untuk berpikir secara rasional mengenai perkembangan yang ada. Apalagi pendidikan matematika.
Dari tema yaitu “matematika vs globalisasi” dapat dilihat bahwa matematika yang merupakan bagian ilmu pengetahuan ditandingkan dengan globalisasi. Arti dari “vs” sendiri seperti kedua kubu yang saling bertarung atau beradu untuk mengetahui siapa yang menang. Ilmu pengetahuan dalam hal ini matematika tidak dapat diadu dengan globalisasi. Malah justru seharusnya, ilmu pengetahuan dan globalisasi baiknya berjalan beriringan. Karena, jika berjalan sendiri maka globalisasi dapat dikatakan “pincang”. Begitupun sebaliknya, jika matematika berjalan sendirian tanpa dukungan dan peran globalisasi didalamnya maka matematika sebagai ilmu pengetahuan tidak ada apa – apanya. Maka sebaiknya, matematika tidak dijadikan lawan melainkan baiknya dijadikan kawan bagi globalisasi itu sendiri agar tidak terjadi kepincangan yang berarti.

 

 

 

Biimplikasi Antara Matematika dan Globalisasi

Matematika dan globalisasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Sebelum bicara tentang bagaimana eratnya hubungan antara dua hal ini, adapun pengertian dari matematika dan globalisasi sendiri. Dimana menurut Kline (1973) “Matematika bukanlah pengetahuan yang dapat menjadi sempurna untuk dirinya sendiri, tetapi matematika terutama untuk membantu orang memahami dan mengatasi masalah Matematika sosial, ekonomi dan alam. Ini tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, oleh karena itu, logika adalah dasar untuk pembentukan matematika. “ sedangkan Secara etimologi kata globalisasi diambil dari bahasa Inggris, yaitu globalize yang berarti universal atau menyeluruh. Penambahan imbuhan “ization” pada kata Globalization artinya adalah proses mendunia. Sehingga arti globalisasi adalah proses sesuatu (informasi, pemikiran, gaya hidup, dan teknologi) yang mendunia. Matematika adalah ilmu yang mendasari semua ilmu seperti pepatah mengatakan “ matematika adalah ratu dari ilmu lain”. serta matematika adalah ilmu yang sistematis dan bersifat hirarki atau berjenjang, memiliki urutan – urutan tertentu. Sifat dari matematika ini jika di bawa dalam kehidupan setiap hari sangat membantu kita untuk menyelesaikan setiap perosoalan dengan mudah dan bijak. Dan sikap inilah yang diharapkan dimiliki oleh setiap generasi muda dalam mengikuti perkembangan globalisasi yang semakin modern dan penuh daya saing. Kemudian berdasarkan dengan pengertian matematika yang di sampaikan oleh Kline (1973) yang mengatakan bahwa logika adalah dasar untuk pembentukan matematika jadi, hal ini sekaligus menjadi manfaat dari matematika yaitu menuntut kita sebelum melakukan sesuatu harus berpikir logis terlebih dahulu sehingga mampu menarik kesimpulan dari keadaan – keadaan umum, menemukan yang khusus dari umum. Hal ini sangat dibutuhkan dalam perkembangan globalisasi yang semakin tak terkendali, karena pada hakikatnya globalisasi memang membawa dampak positif dan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan. Misalnya pada perkembangan globalisasi di bidang teknologi, dimana sekarang banyak pekerjaan manusia yang telah digantikan oleh tenaga mesin atau robot. Namun, perkembangan globalisasi ini juga dapat menimbulkan hal buruk dalam kehidupan ketika kita tidak mampu mengolahnya dengan baik dan tidak mampu memilih dari banyaknya pilihan yang ditawarkan oleh perkembangan globalisasi yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Selain matematika yang mempunyai manfaat dan efek yang besar terhadap perkembangan globalisasi, perkembangan globalisasi juga mempunyai peranan yang sangat urgen terhadap matematika. Sebelumnya kita ketahui bahwa matematika ini adalah mata pelajaran yang kurang di minati oleh para peserta didik bahkan bagi sebagian siswa, matematika adalah mimpi buruk. Matematika sangat membosankan dan membingungkan karena banyak membahas tentang angka. Kemudian alasan utama lainnya adalah karena matematika itu abstrak, sulit dipahami dan ribet. Padahal matematika bagi sebagian orang yang telah manaunginya misalnya kita mahasiswa pendidikan matematika termasuk saya, adalah ilmu yang sangat menantang tetapi menyenangkan. Bagi saya matematika itu santai tapi pasti. Jadi untuk mengatasi masalah – masalah tersebut, globalisasi khususnya di segi teknologi sangat berperan aktif. Dengan teknologi pemahaman tentang materi matematika akan lebih mudah di salurkan bagi para pelajar. Berdasarkan dengan gagasan yang disampaikan oleh Al jupri dalam artikelnya yang berjudul “ peran teknologi dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika yang realistik” yaitu dengan mengadaptasi gagasan dari Drijvers, Boon dan Van Reeuwijk (2010) terdapat tiga fungsi
teknologi bagi matematika antaralain: pertama, teknologi berfungsi sebagai alat untuk mengerjakan perhitungan matematika. Kedua, teknologi berfungsi sebagai tempat belajar untuk melatih penguasaan keterampilan matematis. Dan ketiga, teknologi berfungsi sebagai alat yang dapat digunakan untuk pengembangan dan pemahaman konsep. Contoh dari ketiga fungsi ini adalah penggunaan Microsoft Excel dalam menghitung nilai rata – rata secara cepat dan efisien. Contoh lain yaitu penggunaan aplikasi GeoGebra untuk menggambarkan grafik dari sebuah fungsi lengkap dengan titik – titik potongnya.
gambar disamping adalah gambar dari fungsi f(x)
= x kuadrat, f(x) = x , f(x) = -x dan f(x) = – x kuadrat. Dengan bantuan dari GeoGebara kita dapat mengetahui fungsi yang ingin kita gambarkan.
Kemudian contoh lain penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika adalah ketika kita ingin menggambarkan sebuah bangun ruang tiga dimensi agar mudah di terbayang oleh peserta didik lewat Visual Basic 6.0. jadi, dengan bantaun – bantuan dari teknologi ini yang merupakan akibat dari perkembangan globalisasi yang semakin modern memudahkan seorang tenaga pendidik untuk memberi pemahaman dan menjelaskan konsep materi matematika, dan para pelajar pun mudah memahami dan mengikuti penjelasan tersebut tanpa membayangkan bagaimana bentuk abstraknya lagi karena sudah jelas tergambarkan terutama saat belajar mengenai geometri ruang atau sejenisnya. Hal ini di dukung dengan pernyataan dari Pratima Nayak (2012:8) di jurnalnya yaitu “the move from tradisional paper-based mathematical notations to on-screen notations (including algebraic symbols, but also graphs, tables and geometric figures) can have a dramatic effect. In comparison to the use of paper and pencil which supports only static, isolated notations, use of computers allows for “ dynamic, linked notations” with several helpful advantages.” Yang artinya adalah “ pemindahan notasi matemaika tradisional berdasar kertas menuju notasi pada layar (tidak hanya simbol aljabar, tapi juga grafik, table dan bentuk geometri) mempunyai efek dramatis. Dibandingkan penggunaan kertas dan pensil yang hanya mendukung secara statis, notasi tertentu, penggunaan computer memperbolehkan terjadinya “notasi dinamis yang bersangkutan” dengan beberapa kelebihan yang sangat membantu.”
Jadi, globalisasi terutama dari segi perkembangan teknologi sangat bermanfaat bagi matematika karena kemudahan – kemudahan dan keefesienan yang diberikan ketika mengerjakan soal yang berkaitan dengan matematika. Namun, hal yang ingin penulis sampaikan yaitu meskipun kemampuan teknologi yang sudah serba instan itu mudah kita dapat dan gunakan. Jangan pernah puas dengan hasil yang diberikan, sebab teknologi seperti Microsoft Excel dan GeoGebra hanya memberikan nilai akhir. Maka ada baiknya jika kita juga membuktikan hasil yang kita peroleh tersebut lewat pengerjaan manual, karena dengan
ini kita dilatih untuk lebih mandiri, meningkatkan daya usaha kita untuk mengerjakan sesuatu dan ketika memperoleh nilai pengerjaan melalui cara manual yang benar dan sesuai dengan hasil yang di berikan oleh salah satu alat teknologi juga menjadi rasa kepuasan tersendiri dalam menyelesaikan soal matematika. Kembali pada pengertian matematika yang menuntut kita agar mampu berpikir logis, mengolah segala sesuatu secara terstruktur dan bijaksana memilih hal yang sesuia dengan kebutuhan kita. Sehingga baik itu globalisasi maupun matematika, akan sesuai dengan guna dan manfaatnya ketika kita bisa mengimplementasikan keduanya dengan baik dan benar agar saling melengkapi satu sama lain. Artinya matematika akan lebih mudah jika dan hanya jika di bantu oleh globalisasi khususnya di bidang teknologi dan juga sebaliknya, perkembangan globalisasi akan mudah kita ikuti dan jalani dengan menerapkan sikap – sikap dari matematika itu sendiri.